Kembali Fitrah Dengan “MAAF” Selamat Idul Fitri 1431 H

Dalam Islam, Memaafkan orang lain yang telah berbuat sewenang-wenang terhadap kita merupakan suatu sikap yang paling mulia. Kemaafan akan menjadikan seseorang sanggup menahan dirinya untuk tidak melakukan tindakan tercela dalam bentuk apapun. Orang yang mau memberikan kemaafan berarti ia telah mampu meleburkan dirinya ke dalam diri orang lain dan membuang jauh-jauh sifat egoisnya.
Sikap ini tidak akan bisa dilakukan kecuali oleh orang-orang yang bersih hatinya, dimana ia lebih menyukai kebaikan ketimbang membalas kejahatan orang lain. Dan lebih baik lagi dari ini adalah berbuat baik kepadanya setelah terlebih dahulu memaafkan kesalahannya.
Memang sudah menjadi tabiat manusia, tatkala hatinya disakiti, dia akan merasa sakit hati dan boleh jadi berujung dengan kedendaman. Walaupun demikian, bukan berarti kita harus dendam setiap kali ada yang menyakiti, malah sebaliknya, jika kita dizalimi, maka do’akanlah orang-orang yang menzalimi itu agar bertaubat dan menjadi orang shaleh. Mampukah kita melakukannya ?
Memaafkan tidaklah mudah. Kata para sufi, memaafkan harus dilatih secara terus-menerus. Sifat pemaaf tumbuh karena kedewasaan ruhani. Ia merupakan hasil perjuangan berat ketika kita mengendalikan kekuatan di antara dua kekuatan, pengecut dan pemberang.
Sifat pemaaf menghiasi akhlak para nabi dan orang-orang shaleh. Ruhani mereka telah dipenuhi sifat Allah Yang Maha Pengampun. Maaf yang tulus lahir dari perkataan yang tulus kepada orang lain. Karena itu untuk bisa memaafkan, kita harus memusatkan perhatian kita kepada orang lain. Kita sangat berharap agar orang lain tidak murka kepada kita. Kita berharap agar orang lain bisa memberitahu kesalahan kita dengan cara bijaksana. Kita berharap agar orang lain bisa bersikap santun dalam menyikapi kesalahan kita. Kita sangat tidak ingin orang lain marah besar atau bahkan mempermalukan kita di depan umum.
Kalaupun hukuman dijatuhkan, kita ingin agar hukuman itu dijatuhkan dengan adil dan penuh etika. Kita ingin diberi kesempatan untuk memperbaiki diri, kita juga ingin disemangati agar bisa berubah diri. Kalau keinginan-keinginan ini ada pada diri kita, mengapa ketika orang lain berbuat salah, kita malah mencaci maki, menghina, memvonis, memarahi, bahkan tidak jarang kita mendzalimi.
Menangis adalah hal yang lumrah, yang wajar atau biasa-biasa saja. Memang menangis adalah bagian dari kehidupan. Tak ada satu pun manusia di dunia ini yang tidak pernah menangis. Bahkan awal mula tangisan adalah sebuah perkenalan manusia terhadap kehidupan semesta, yakni ketika anak (bayi) keluar dari rahim ibunya. Ia muncul membawa tangisan seakan-akan kemunculannya membawa duka yang sangat dalam. Dan tentu saja kita tidak pernah ingat kapan tangisan pertama kita, sebab demikianlah alam mengatur dan menyimpan dalam rahimnya.
Menangis kadang sulit dilakukan, walaupun sejak lahir manusia sudah terbiasa menangis namun tetap sulit dilakukan, terutama saat dalam lapang dan bahagia. Ketika ada bencana, ujian, musibah, baru mata setetes demi setetes mengalirkan air mata, yang kadang entah untuk apa dan tanpa makna.
Karenanya jangan sia-siakan air mata hanya untuk menangisi sesuatu yang tidak abadi, menangislah karena takut akan siksaan dan azab Allah SWT. menangislah karena takut kesalahan dan dosa kita tidak diampuni atau di maafkan oleh orang tua kita, menangislah karena takut kesalahan kita tidak dimaafkan orang lain. Tetesan air mata yang mengalir sekarang akan menjadi embun penyejuk pada hari perhitungan kelak, maka menangislah saudaraku demi sebuah kemaafan, agar kita semua selamat dari azab Allah SWT…!
Sebuah tangis yang keluar dari lubuk hati. Sebuah tangis yang menyirami ketidaksadaran hati. Sebagaimana air yang menyiram kelopak-kelopak mawar yang kehausan. Sebuah tangis yang menyapu kecendrungan-kecendrungan hati yang kotor menuju hati yang bersih, sebagaimana air yang menghapus debu-debu yang menempel di cermin. Sebuah tangis yang menguatkan hati agar tidak waswas, cemas, gelisah dan bingung sebagaimana air yang hening di telaga luas. Sebuah tangis yang mengiringi doa yang teramat mulia, yang terucap dalam kerinduan dan harapan.
Selamat idul fitri wahai mata, Maafkanlah aku,
Selama ini kau hanya Kugunakan melihat kilauan comberan semata. Selamat idul fitri wahai telinga Maafkanlah aku,
Selama ini kau hanya ku sumpali rongsokan-rongsokan kata
Selamat idul fitri wahai mulut Maafkanlah aku,
Selama ini Kau hanya ku jejali dan ku buat memuntahkan kotoran Selamat idul fitri wahai tangan Maafkanlah aku,
Selama ini kau hanya kugunakan mencakar-cakar kawan dan berebut makanan murahan Selamat idul fitri wahai kaki Maafkanlah aku,
Selama ini kau hanya kuajak menendang kanan kiri dan berjalan di lorong-lorong kegelapan
Selamat idul fitri wahai akal budi Maafkanlah aku,
Selama ini kubiarkan kau terpenjara sendiri
Selamat idul fitri wahai diri
Marilah kembali menjadi manusia yang suci..!
Akhirnya, Kami mohon maaf lahir dan batin, andaikata terdapat kesalahan dan kehilafan dalam tingkah laku maupun ucapan. Sudilah Saudara/i memaafkannya dengan setulus hati. Dan semoga kita selalu mendapat taufiq dan hidayah dari Allah dan berbahagia dunia sampai di akhirat. InsyaAllah…

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: