ABG Tempo Dulu

14 Gaya ABG
Sebelum ada hp,
SMS, Chatting, dan
Facebook.. Masa-
masa belum kenal
internet, yang punya
telpon rumah masih
jarang itu juga
pesawatnya model
yang puteran bukan
yang pencet-pencet,
ponsel apalagi, tapi
semua itu tak bikin
kita mati gaya.
Seperti kata orang
bijak, bila ada
keinginan pasti ada
jalan. 1. Naksir, ingin
menembak si dia..
Pura-pura pinjam
buku, lalu kembaliin
plus “bonus” puisi
cinta (dibikinin teman
sih yang disogok
pake permen endog
cecak). Ingat lagunya
Iwan Fals- Buku ini
Aku Pinjam. Agak
frontal dikit,
menaruh surat cinta
di laci mejanya. Lebih
telak lagi, bikin
pesawat-pesawatan
dari kertas, komplit
dengan tulisan “I love
you pulll”, awas saat
mengirimnya jangan
sampai nyasar
mendarat di hidung
guru BP yang sedang
memberi penyuluhan
di kelas… Habis itu
harap-harap cemas
menanti surat….
penolakan…
wakakak…. Gimana
lebih enak ditolak
lewat surat kan
ketimbang lewat
SMS, bisa dikumpulin
buat kenangan
koleksi penolakan
yang kesekian…
wakakak… Tentu
saja mekanisme
pengiriman pesan
tersebut rawan
penyadapan, dan bisa
salah tembak.
Maunya mengirim ke
Susan, jatuhnya kok
ke tangan Susanto..
wah bisa berabe…
Ingat Jean Pattikawa
nyanyi, “Surat
cintaku yang
pertama, membikin
hatiku berlomba….”,
atau Kangen, “Kau
Tuliskan Padaku Kata
Cinta Yang Manis
Dalam Suratmu…”,
atau Kahitna,
“Suratku ini,
cerminan luka di
hati…” Kalau
sekarang mungkin
liriknya berubah kali,
jadi “Email cintaku
yang pertama,
membikin hatiku
berlomba…” Yang
jatuh cinta, suratnya
disemprot parfum
biar wangi, lha yang
putus cinta? Ya
disemprot Baygon
saja… upss janngan
deh… 2. Mau kirim-
kirim salam… Pulang
sekolah mampir dulu
ke kantor Stasion
Radio untuk nitip
pesan. Sore- sore
siap di depan radio
sambil pasang kuping
nunggu pesannya
dibacain, “Ya, buat
paman gembul,
nirmala dan donal
bebek, tadi di kelas
paman gober marah-
marah melulu, hati-
hati dengan si sirik,
buat don kisot
kembaliin kaset
genesis gue, buat
penyiarnya yang
rukun aja ya…,dari
ikkyu san di planet
krypton…. oya titip
lagu madu dan
racunnya Ari
Wibowo… spesial
buat samwan yang
tega
meninggalkanku….”
Puas deh rasanya…,
padahal yang
dikirimin pesan lagi
pada molor semua….
Makanya lain kali
jangan cuma kirim
salam, tapi kirim juga
laos, temulawak,
kunir, dll…. lho? 3.
Mau menelpon lokal
siapkan kepengan,
dulu sih seratusan
perak, yang tipis lho
bukan yang tebal…
Sambil cari-cari
telpon umum yang
masih utuh, soalnya
ada yang cuma
tinggal gagangnya
doang, ada juga yang
“interior” masih
utuh, jebulnya di atas
nggak nyambung ke
kabel telpon. Kadang
nemu yang jalan, eh
dipake tempat
pacaran, atau
berteduh waktu
hujan. Pernah sih
nunggu orang selesai
telpon, eh dianya
ngeluarin recehan
segepok taruh di atas
pesawat telpon. Ya
udah deh, nyari
lainnya aja…. Eh
malah diajarin anak-
anak kecil ngunthet
koin pake kawat,
hayooo…. Masih
ingat pesan nan
“mengharukan” ini,
“Tiga menit waktu
anda sudah habis,
silakan masukkan
koin lagi…” Duh,
koinnya dah habis
buat main
dingdong….. 4. Mau
menelpon
interlokal…
Begadang nunggu di
atas jam sepuluh
malam, atau bangun
jam empat pagi, lalu
buru-buru ke wartel,
biar dapat tarif
murah/diskon. Saya
ingat ketika itu,
wartel masih jarang,
bahkan kadang harus
absen dulu terus
pulang lagi ke
rumah, dua jam lagi
baru balik dan
sampai gilirannya,
saking banyaknya
yang antri. Jadi ada
wartel yang tiap
malam selalu ramai,
mirip agen porkas
mau bukaan saja. 5.
Menerima telpon…
Bagi anak kost yang
cari tempat kost,
biasanya punya
pertanyaan
tambahan, “Ada
telpon?”. Soalnya
bisa numpang
menerima telpon di
tempat ibu kost. Siap-
siap pagi-pagi jam
empat dipanggil-
panggil ada telpon
interlokal dari
kampung. Paling
diledekin teman kost,
“Tuh… kau disuruh
buruan pulang, mau
dikimpoikan dengan
calon pilihan ibu
kau….” Ada juga
yang gemar ngerjain
di kost, kalau ada
telpon dari cewek.
Nggak mungkin deh
punya rahasia, lha
wong telpon masuk
siapa-darimana seisi
kost tahu semua
(terutama ibu kost),
belum yang hobi
nguping… 6. Pak Pos
is my hero..
Menunggu-nunggu
Pak Pos datang,
terutama yang
sedang di
perantauan, kiriman
kabar dari kampuang
nan jauh di mato.
Juga surat dari
tambatan hati,
wuiihhh ada cap
bibirnya segala…
Rasanya tulisan
tangan plus wangi
surat lebih berkesan
(yah masak nulis
surat cinta mesti ke
rental dulu, lebih
romantis tulisan
ceker ayam
ketimbang cetakan
printer dot-matrik
yang pitanya udah
kusut dan mbrodholi,
maklum di rental)
soalnya bisa diciumi
tiap hari…hihihi.
Pokoknya Pak Pos is
the one and only
selalu dinanti meski
kadang telat… 7.
Mau janjian?…
Pastikan tempatnya
dengan jelas, supaya
jangan sampai
tlisiban (apa ya
artinya ini?
pokoknya, kau kesini,
dia kesitu, kau
begini, dia begitu, dia
menunggu di sana,
kau menunggu di
situ). Konyol kan
kalau janjiannya di
alun-alon lor,
panjenengan
menunggunya di alun-
alun kidul. Benarkah
keberadaan ponsel
sekarang
meminimalkan
potensi plisaban? 8.
Kartu ucapan Hari
raya… Nyari-nyari
dan pilih-pilih kartu
Lebaran atau Natal.
Sebenarnya nggak
apa juga sih pilih satu
set yang sama,
soalnya kirimnya kan
ke orang yang
berbeda. Ada yang
kreatif, bikin sendiri
kartu lebarannya
digambar sendiri.
Ngirim kartu biar
hemat prangko,
nggak usah dilem
amplopnya ya… 9.
Tidak ada telpon,
mau kirim berita
cepat… Pilihannya
adalah kilat khusus.
Atau lewat telegram
saja (duh, yang ini
udah punah deh),
oke, kma ttkhbs
(ssstt… pelajaran
bahasa Indonesia di
sekolah masih ada
nggak cara menulis
telegram?). Mau
lebih hemat lagi tapi
lebih cepat, ya
belajar telepati aja…
hahaha…. 10. Tidur
lebih nyenyak,
bangun lebih enak…
Coba sekarang, baru
melek dikit sudah
melirik ada pesan
masuk tidak, ada
miscalled tidak,
masuk WC aja ganti
dulu statusnya, pagi-
pagi belum sarapan
burjo sudah sarapan
pulsa dulu. 11. Lebih
mudah bikin
alasan/ngumpet…
Kalau jaman
sekarang kan
alasannya cuman
dua, low-bat atau
nggak ada sinyal.
Dulu nggak ada yang
protes, “Kenapa sih
telpon dimatikan,
nggak diangkat-
angkat, SMS nggak
dibales….” 12. Apa
itu di dalam
kantong..? Kalau
saku kelihatan
mblendhuk, jelas
bukan batangan HP
apalagi blekberi,
mungkin batangan
coklat atau wafer.
Atau jangan-jangan
nggembol sego
kucing buat sangu…
hihihi…. 13. Lebih
banyak garuk-
garuk… Kalau
sekarang kan waktu
bengong jari bisa
diberdayakan untuk
pijet-pijet tombol
kalo nggak ngurusin
SMS kan bisa main
game di ponsel. Lha
dulu masak gede-
gede bawa
gamewatch kan
nggak wangun.
Sebenarnya klaim ini
masih perlu riset,
benarkah
keberadaan ponsel
mengurangi
frekuensi garuk-
garuk. Kalo orang
Jawa bilang, “Seko
kukur-kukur malih
dadi tutul-tutul” 14.
Mau backstreet ?…
Bila perlu pakai cara
pramuka, pakai
bahasa sandi atau
surat yang hanya bisa
terbaca dengan cara
khusus. Lha yang
punya pesawat
telpon di rumah juga
ditungguin babe ama
enyak….. Semoga
Cukup Membuat
sahabat yg berumur
diatas 30 ‘an senyum2
dan bernostalgia
sejenak dan buat
remaja di jaman ini,
bersyukurlah dengan
segala kemudahan yg
diberikan Allah
dengan tekhnologi
canggih di era ini…
Jangan salah gunakan
kemudahan itu untuk
kemaksiatan yg
membuat Allah
murka.. jadikan
untuk saling berbagi
kebaikan dan
manfaat….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: